Samsara atau sangsara dalam agama Buddha adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. Selain agama Buddha, kata samsara juga ditemukan dalam agama Hindu, Jainisme, serta beberapa agama terkait lainnya, dan merujuk kepada konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali menurut tradisi filosofikal India. (Wikipedia).
Alam pikir hemat saya menimang-nimang samsara sebagai unsur psikologis yang mengerucut pada kata sengsara. Dalam ontologinya samsara tentunya dapat dikatakan sebagai apa yang ada atau dalam ilmu fenomenologi dikatakan sebagai yang fenomenon (yang tampak). Dalam film yang berjudul SAMSARA ini mau mengangkat tema tentang apa yang tampak dalam kehidupan kaum biarawan. Thasi dan rekan-rekannya serta para penasehat spiritualnya adalah biarawan yang menjalani hidupnya dengan payung agama yang dipercayainya. Sejauh mana hidupnya dapat berjalan sesuai aturan-aturan agamannya, itu adalah pertanyaan reflektif bagi setiap individu yang menggeluti kepercayaannya. Ajaran Buddha amat sederhana dan terdiri dari empat prinsip yaitu (1)hidup adalah penderitaan(duhka); (2) sebab (samudaya) penederitaan adalah nafsu dan keinginan yang mencari kepuasan diri dalam kesenangan, milik dan kuasa ;(3) penderitaan dapat diatasi (sampai nirodha=pemadaman); dan (4) itu terjadi dengan melepaskan keinginan melalui delapan marga ; yakni kepercayaan yang benar ( kepada Buddha) maksud yang benar ( yang terwujud dalam tiga yang berikut); perkataan yang benar;perbuatan yang benar usaha yang benar (dalam arti pengawasan hawa nafsu); ingatan yang benar (yakni pengawasan terhadap akal, kehendak dan emosi); dan Samadhi yang benar. Kesimpulan dari ajaran tersebut dapat dikatakan sebagai eksistensi manusia dibumi yang melihat hidup sekarang ini untuk menuju keempurnaan hidup yang benar.
Didalam ajaran kepercayaan selalu dibicarakan tentang kebenaran-kebenaran, hidup suci, hubungan manusia dengan Tuhan, yang intisari dari itu semua adalah agar kita terbebas dari dosa, samsara atau sengsara di dunia. The factonya adalah hidup manusia tidak pernah terbebas dari dosa. Untuk itu manusia senantiasa mencari kesempurnaan hidup agar terlepas dari sengsara . Contoh dalam ajaran Buddha adalah tokoh Siddharta Gautama yang meninggalkan istrinya yang cantik, rumah mewah yang kemudian mengembara sebagai seorang pertapa dan pengemis. Ia terkejut melihat penderitaan manusia dan ingin menemukan rahasianya untuk mengakhiri nestapa yang dilihat disekelilingnya dan kemudian Ia berhasil menemukan pencerhan itu.
Refleksi dalam pengahyatan samsara, manusia cenderung melihatnya sebagai dosa dan bertobat adalah formula yang canggih yang dapat dijalaninya untuk menuju hidup yang lebih baik.
Sebagai manusia, kita hampir pasti telah jatuh kedalam jurang yang sama yaitu DOSA. Banyak faktor mengapa manusia jatuh kedalam dosa. Bisa jadi jatuh kedalam dosa karena pengaruh lingkungan , jatuh kedalam dosa karena keadaan yang mendesak atau bahkan karena kebiasaan. Dosa itu layaknya jalan setapak yang mengantar kita pada kesengsaraan jiwa. Dibutuhkan keikhlas-an dan air mata untuk memurnikan kembali jiwa kita yang telah ternoda oleh dosa.
Dalam hal ini, PERTOBATAN adalah kata kunci yang tepat untuk mewujudkan rasa haus kita akan jiwa yang suci ( terbebas dari dosa). sebelum kita mencapai itu semua, patutlah kita bertanya dalam hati kita : "seberapa besar iman kita akan Kristus yang selalu memaklumkan tentang pertobatan ?".Bertobat tidak hanya menyesal akan dosa-dosa yang telah kita perbuat, akan tetapi memandang dosa sebagai hal yang paling mengerikan dari segala kejahatan dan dengan gigih kita terus menerus menghindarinya.
"Karena semakin suci kita di Dunia, semakin dekat kita dengan-Nya di surga". St. Yohanes Maria Vianey
Referensi : Paham Allah, Tom Jacobs SJ. Karya lengkap Driyakara, Sejarah Tuhan,Karen amstrong.
Stefanus dominggus
2010510019
Fenomenologi agama

0 Comments