2010510019
Fenomenologi
Fakultas filsafat UNPAR
________________________________________________________________________
Apocalyto dan refleksinya
Apa menariknya film yang berjudul apocalypto? Isinya saja hanya orang-orang yang berlari. Parahnya, untuk menangkap satu orang (si jaguar paw) sampai mengerahkan seluruh pasukan musuh. Bagaimana dengan hasilnya? Boro-boro tertangkap, yang ada sipengajar satu-persatu mati konyol karena kebodohanya sendiri. Bagaimana bisa sijaguar paw anak muda, berbadan kecil, dan seorang diri dapat lolos dari kematian? Kematian yang ada dihadapanya bahkan berubah 360 derajat menjadi kehidupan, kehidupan yang baru.
Pertanyaan dan pernyataan diatas bisa dikategorikan sebagai ungkapan langsung, spontan dari seseorang yang menonton film ini dengan penghayatan yang dangkal. Melihat sudut film ini hanya dari apa yang tergambar, tidak melihat dari sudut kedalaman pesan moral yang dihasilkan dari film ini. Dalam adegan jaguar paw dan rekan-rekannya yang sedang bersenda gurau serta membagi-bagi hasil buruannya, tiba-tiba situasi mereka dikejutkan dengan kedatangan tamu dari suku lain. Kita dapat melihat dan mendeskripsikan bagai mana ekspresi dari suku tamu tersebut. Dan hal itu pula yang ditanyakan oleh ayah jaguar paw. Sang ayah bertanya kepada jaguar paw “apa yang kamu lihat dari mereka (suku dari seberang)jaguar paw hanya terdiam membisu. Sang ayah melanjutkan pembicaraannya,” tampak rasa takut dari wajah mereka, ketakutan yang amat sangat dalam”. Kemudian sang ayah menasehati jaguar paw dengan berkata “ jangan takut, sebab rasa takut adalah penyakit, penyakit yang mengerogoti kebahagian manusia”.
Petuah tersebut, menurut hemat saya adalah “Gong” dari pesan film apocalyto dan merupakan rentetan pertanyaan yang dikemukakan diatas. Jaguar paw yang semula diselimuti rasa takut yang amat sangat terhadap kematian, ketika sampai pada hutannya, kawasannya ia disadarkan akan perkataan ayahnya, dan dari situ ia mulai menghadapi kematiannya hingga ia menang dan berhasil menemukan hidup baru. Selain itu kita dapat melihat bagaimana seseorang berusaha untuk tetap hidup dengan melewati segala rintangan demi kembali kepada orang-orang yang dicintai, demi mempertahankan hak hidup.
Pengalaman spiritual dimana ketika suku-suku dalam film ini melakukan ritual-ritual yang dianggap sebagai pemujaan terhadap yang maha kuasa, disaat ladang tidak menghasilkan panen diartikan sebagai dewa/yang maha kuasa menginginkan kurban yang diaplikasikan dengan memenggal kepala manusia. Jika kita telaah lebih dalam ritual-ritual tersebut ingin menunjukan bahwa pada dasarnya manusia mengakui adanya kekuatan besar yang ada diluar diri manusia. Bahkan eksisitensi agar sukunya tetap bertahan sudah disadari dengan melakukan hubungan seksual

0 Comments