Menelaah konsep Nietzsche,



 Nietzsche dikenal sebagai nabi bagi kaum humanis , sebab starting point Nietzsche bermuara  pada usaha-usahanya untuk  memperjuangkan manusia yang otentik, utuh, sejati, otonom. manusia yang otonom,otentik,utuh menurutnya adalah manusia yang memiliki "Will To Power"  : manusia yang dapat berdiri sendiri, mandiri, dapat menentukan hidupnya tanpa dipengaruhi oleh orang lain (termasuk Tuhan). 

Bagi Nietzsche percaya kepada Tuhan, dewa,Allah apapun sebutannya adalah akar dari segala penyakit yang menyebabkan manusia menjadi tidak otonom,otentik,utuh. mengapa demikian, sebab dalam realitasnya manusia tidak diberikan ruang gerak yang bebas untuk berekspresi,bertindak, oleh karena ada sosok, figur yang mengawasi mereka yang disebut sebagai Tuhan tersebut. Terlebih lagi dalam segala tindakan manusia tolok ukurnya adalah surga, dimana dogma atau aturan-aturan agama menjadi aturan yang seakan-akan mesti dipatuhi, jika tidak dipatuhi atau melanggarnya maka ganjarannya adalah neraka, alam baka atau apapun istilahnya itu. 

Nietzsche memberikan jalan alternatif : jika ingin terbebas dari kekangan itu maka manusia harus membunuh Tuhan,membunuh dalam artian meninggalkan Tuhan dan beralih kepada "Will To Power", dimana Nietzsche mengedepankan aspek diri dari manusia yang memiliki power, manusia yang bebas menentukan, manusia yang mempunyai gairah dalam hidup tanpa dipengaruhi oleh faktor apapun.Seandainya manusia memiliki Tuhan maka Tuhan itu haruslah "Will To Power".  maka Tuhan atau Allanya Nietzsche adalah Allah yang Etis, yang mengangkat nilai-nilai manusia.

Menarik untuk ditanyakan lebih lanjut adalah : bukankah kehidupan manusia,sangat intim dengan nilai-nilai moral, yang berkaitan dengan baik dan benar, boleh dan tidak boleh, sebab pada hakikatnya manusia adalah mahluk sosial yang pasti berinteraksi dengan manusia lainnya, jika Ia menolak konsep Tuhan ; dari mana Nietzsche mendapatkan tolok ukur dalam mempertimbangkan tindakan moralnya? suara hatikah?atau bertindak sesesukanya tanpa memperdulikan yang lain, hal ini justru melemahkan esensi dari humanis itu sendiri. tidak sampai disitu kita dapat bertanya lagi terkait dari mana suara hati itu datang?

Jika kita melihat lebih dalam terlebih mengkritisi konsep Nietzsche ini, maka sudah semestinya kita melihat unsur sosio-historis. melihat situasi yang sedang terjadi pada masa Nietzsche hidup. Dia hidup dimasa kejayaan kristen, dimana setiap aturan hidup mengandung nilai moral kristiani, bisa jadi Nietzsche tidaklah Atheis murni, meliankan hanya membenci, menolak, konsep yang ada pada saat itu.

"Saya tidak mempersoalkan apakah Tuhan itu ada atau tidak, namun apakah gagasan tentang Tuhan itu mempunyai makna atau tidak" A.J.Ayer (1910-1991)
                                                                                                           by:MingGuz @bandung